#KlubStartup

Tampilkan postingan dengan label Wajib Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wajib Belajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Maret 2010

Strengths Finder, Eksploitasi Kekuatan Diri

Sudah baca buku-buku di bawah ini? Buku-buku tersebut adalah karya para peneliti dari Gallup, sebuah lembaga survey dunia, yang mengumpulkan data lebih dari dua juta orang responden untuk menjelaskan tentang konsep strengths atau kekuatan manusia yang berbeda-beda dan bagaimana cara kita mengeksploitasi kekuatan diri kita. Konsep ini sudah dipakai sebagai dasar manajemen sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan besar. Selayaknya paradigma StrengthsFinder ini dipahami pula oleh guru dan orang tua dalam mendidik murid-murid dan anak-anaknya.

Buku ini dimulai dengan membongkar paradigma mendasar yang dipercaya oleh banyak orang. Kita memiliki asumsi yang salah tentang manusia (artinya asumsi yang salah itu juga berlaku bagi diri kita sendiri!). Pertama, kita percaya bahwa setiap manusia bisa menjadi kompeten dalam hal apa pun kalau dia mau belajar. Ternyata ini salah! Tiap manusia memiliki bakat yang unik dan permanen. Kita juga percaya bahwa seseorang akan menjadi jauh lebih baik bila ia berfokus memperbaiki kelemahannya. Salah lagi! Seseorang bisa menjadi jauh lebih baik justru bila ia berfokus mengembangkan kekuatan terbaiknya. Tapi apakah sebenarnya kekuatan itu?

Kekuatan seseorang bisa didefinisikan sebagai area di mana ia secara konsisten menunjukkan performa mendekati sempurna. Kekuatan sendiri bisa dirumuskan sebagai gabungan dari bakat dan investasi. Bukan investasi uang yang dimaksud di sini, namun investasi waktu untuk melatih dan mengembangkan keahlian serta menambah pengetahuan kita. Artinya cukup dengan berlatih, berlatih, dan berlatih? Tunggu dulu, kan masih ada satu faktor penting lagi, yaitu bakat. Bakat bisa didefinisikan sebagai pola yang berulang dari pikiran, perasaan, atau perilaku, yang bisa diaplikasikan secara produktif. Yang jarang dipahami orang tentang bakat adalah bakat itu unik… dan permanen! Artinya kita tidak bisa berganti bakat. Maksudnya bagaimana tuh?

Pola berulang yang kita alami itu dibentuk oleh koneksi-koneksi dalam otak kita yang, sesudah melewati usia tertentu, tidak akan bisa kita desain ulang. Untuk memahami hal ini kita perlu melihat ke dalam otak kita yang misterius. Ketika kita masih bayi, otak kita berkembang begitu pesat. Sampai pada titik tertentu ketika kita beranjak dewasa, otak justru “menciut”. Lho, kita jadi tambah bodoh donk??!!! Malah sebaliknya, ketika otak semakin mengecil saat kita mendewasa, justru kita bertambah cerdas. Bagaimana bisa begitu? Tadi kan saya sudah katakan kalau otak kita memang misterius. Rahasianya ada pada apa yang disebut dengan sinapsis. Apakah itu sinapsis?

Untuk menjelaskan sinapsis, kita harus tahu dulu mengenai neuron. Harap bersabar kalau agak panjang ceritanya. Ini bakal menarik kok. Empat puluh dua hari setelah kita dibuat (ehem), kita membentuk neuron pertama kita. Lalu, 120 hari kemudian, kita memiliki… 100 milyar neuron!! Itu artinya, 9500 neuron baru per detik! Tapi sesudah itu tidak terlalu ada pertambahan lagi. Kita dilahirkan dengan 100 milyar neuron, dan kita tetap memiliki 100 milyar neuron sampai usia paruh baya. Enam puluh hari sesudah kita dilahirkan, neuron-neuron itu menjalin komunikasi antara satu dengan yang lainnya dengan membentuk untaian yang disebut akson. Setiap kali ada untaian yang sukses terkoneksi dengan yang lain, maka terbentuk satu sinapsis. Saat kita berusia tiga tahun, masing-masing neuron kita yang berjumlah 100 milyar itu telah membentuk 15.000 jaringan komunikasi sinapsis dengan neuron lain. Berapa jumlah total sinapsis yang terbentuk? Silahkan hitung sendiri. Namun kemudian sesuatu yang aneh terjadi…

Entah mengapa, secara alami kita akan mengabaikan banyak dari jalinan sinapsis yang telah terbentuk. Seperti pada hal-hal lain juga, sesuatu yang diabaikan akan menjadi rusak dan usang. Akhirnya, banyak jalinan sinapsis itu yang berguguran, sampai-sampai di usia kita yang ke-16 hanya tinggal setengah dari seluruh jaringan sinapsis itu yang masih bertahan. Kita pun tidak bisa membangunnya kembali. Apakah ini pertanda buruk?

Jangan sedih dulu, kenyataannya ini justru baik untuk kita. Tidak benar kalau ada yang berkata semakin banyak jalinan sinapsis yang kita miliki di otak maka kita semakin cerdas atau semakin efektif. Kecerdasan dan keefektifan kita bergantung pada seberapa baik kita bisa memanfaatkan jalinan sinapsis terkuat. Kita secara alami dipaksa untuk mematikan milyaran koneksi agar kita bisa bebas mengeksploitasi yang terkuat bagi kita. Syukurlah…

Lalu, bagaimana cara kita mengidentifikasi bakat kita? Ada beberapa petunjuk. Coba kita ingat-ingat kembali dan kita pikirkan dengan tenang hal-hal berikut yang muncul pada diri kita: reaksi spontan, keinginan yang mendalam, kepuasan yang didapat, dan kemudahan menguasai suatu hal. Dengan memperhatikan empat petunjuk itu, kita bisa mengira-ngira bakat yang ada pada diri kita. Atau bisa juga dengan membeli buku-buku di atas yang menyediakan online assessment untuk mengetahui kekuatan kita.

Apa hambatan terbesar dalam mengembangkan kekuatan diri? Jawaban klise namun memang demikian adanya: diri kita sendiri lah yang sering menyabotasi pengembangan kekuatan diri. Kita takut akan kelemahan diri, takut gagal, dan takut untuk mengetahui seperti apa diri kita sesungguhnya. Ketakutan seperti ini tidak perlu diabaikan. Rasakan ketakutan itu, namun tetap hadapi secara langsung.

Selanjutnya, bagaimana dengan kelemahan kita? Apa tidak perlu ditutupi? Jangan terlalu buang waktu mengurusi kelemahan. Kalau kelemahan itu merugikan, cukup ditutup sedikit saja, yang penting bisa jalan terus. Contoh: bintang basket Shaquille O’Neal terkenal sangat dominan mencetak nilai namun tidak bisa mencetak lemparan bebas. Akhirnya kelemahan ini dimanfaatkan oleh lawan sampai merugikan timnya. Shaquille O’Neal pun berlatih memperbaiki lemparan bebasnya, tapi hanya sedikit saja supaya tidak jelek-jelek amat sehingga dimanfaatkan lawan. Dia tidak berlatih untuk menjadi pemain dengan lemparan bebas terbaik di liga basket NBA. Namun dia tetap berlatih mengeksploitasi kekuatannya dalam mencetak nilai.

Ada beberapa cara lain juga untuk mengatasi kelemahan. Ciptakan support system. Seperti kalau kita pelupa, maka kita gunakan kalendar di handphone sebagai reminder acara2 penting. Lalu bisa juga kita mengeksploitasi kekuatan sedemikian rupa sampai membuat kelemahan kita menjadi tidak signifikan. Cara lain yang paling ok menurut saya adalah mencari partner untuk saling menutupi kelemahan dan saling mengisi. Cara terakhir adalah berhenti melakukan sesuatu yang tergantung pada hal yang justru kita lemah. Artinya sesuatu itu tidak cocok untuk kita.

Konsep kekuatan diri ini tidak harus mengarahkan kita pada karier-karier tertentu. Namun konsep ini membantu kita melakukan “modifikasi” pada cara kerja kita sehingga bisa mengeksploitasi kekuatan diri sebanyak mungkin. Dalam mendidik siswa dan anak-anak pun kita harus mengingat konsep ini. Sekali lagi, jangan paksa mereka menutupi kelemahan, tapi carikan tempat yang tepat di mana mereka bisa mengembangkan dan mengeksploitasi bakat dan kekuatan mereka. Ingat, sebenarnya kita semua, termasuk anak-anak kita, tidak akan bisa menjadi seseorang yang bukan diri kita sesungguhnya. Artinya, belum tentu kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Namun kita pasti bisa menjadi diri kita sendiri dalam versi yang jauh lebih kuat dan lebih baik. Selamat mengeksploitasi kekuatan diri!***


Dikutip dari: http://wajibbelajar.com/

12 Ciri Orang Terdidik… yang Mungkin Tidak Kita Pelajari di Sekolah

Posting ini saya ambil dari tulisan John Taylor Gatto dari situs Yes! Magazine. Sedangkan tulisan John Taylor Gatto ini sendiri sebenarnya diadaptasi dari bukunya yang berjudul “Weapons of Mass Instruction”.

Apakah ciri orang terdidik? Apakah ia memiliki gelar kesarjanaan dari perguruan tinggi terkemuka? Atau ia memiliki nilai rata-rata Ujian Nasional di atas 9 untuk tiap mata pelajaran? Ataukah ia adalah orang yang rajin belajar Matematika (karena kalau demikian ia pasti rajin belajar yang lain juga, seperti menurut Jusuf Kalla)? Menurut John Taylor Gatto, bukan itu semua.

John Taylor Gatto adalah seorang guru dengan pengalaman mengajar di sekolah formal selama 30 tahun di kota New York, dan bahkan ia pernah memenangkan gelar penghargaan tahunan Guru Terbaik di negara bagian New York. Namun pengalaman mengajarnya justru membuat ia sadar bahwa murid seharusnya menghabiskan waktu lebih banyak di luar kelas daripada di dalam. Membangun karakter dan bergaul dengan komunitas jauh lebih berharga daripada belajar dari textbook atau mengikuti jadwal pengajaran yang kaku. Berikut ini adalah karakteristik yang dimiliki oleh orang yang terdidik:

  1. Memiliki prinsip-prinsip dan nilai-nilai pribadi, namun menyadari, memahami, dan menghargai prinsip dan nilai yang dimiliki oleh komunitas di sekelilingnya dan juga oleh berbagai ragam budaya yang ada di dunia.
  2. Menyadari dan mengeksplorasi warisan sejarah, budaya, dan tradisi dari para pendahulunya.
  3. Merasa nyaman saat sendiri, tidak mencari persahabatan konstan melalui hiburan TV, komputer, telepon seluler dan tidak pula persahabatan dangkal yang cepat diperoleh namun cepat pula ditinggalkan (baca posting ini untuk penjelasannya), namun memahami dinamika antar manusia serta mampu membentuk hubungan yang sehat dengan sesamanya.
  4. Menerima bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Menyadari bahwa setiap pilihan yang diambil dapat mempengaruhi generasi-generasi berikutnya.
  5. Menciptakan hal-hal baru dan menemukan pengalaman-pengalaman baru.
  6. Dapat berpikir sendiri, tidak harus selalu disuplai jawaban. Dapat mengobservasi, menganalisa, dan menemukan kebenaran tanpa harus bergantung pada opini orang lain.
  7. Lebih menyukai cinta, keingintahuan, rasa hormat, dan empati, daripada kekayaan materi.
  8. Memilih aktivitas dan pekerjaan yang berkontribusi pada kebaikan dan keuntungan bersama.
  9. Menikmati tempat dan pengalaman baru yang bervariasi, namun memiliki dan mencintai tempat yang bisa disebut “rumah”.
  10. Menyuarakan pendapatnya sendiri dengan penuh rasa percaya diri.
  11. Memberi nilai tambah pada tiap pertemuan dengan orang lain dan pada tiap kelompok tempat ia tergabung.
  12. Selalu bertanya: “Siapakah diriku sebenarnya? Apa saja batasan yang aku miliki? Apa saja kemungkinan yang bisa aku raih?”

Demikian daftar yang dibuat John Taylor Gatto mengenai ciri-ciri orang terdidik. Apakah Anda setuju? Adakah yang kurang atau justru berlebih? Menurut Anda, mana saja dari semua ini yang kita dapatkan di sekolah, mana yang tidak? Bagaimana caranya kita bisa mengajarkan hal-hal ini pada anak/siswa? Saya nantikan opininya.***

John Taylor Gatto


Dikutip dari: http://wajibbelajar.com/