#KlubStartup

Kamis, 18 November 2010

Pengalaman Pribadi: Masa SMA-ku

Masa-masa di SMA merupakan sesuatu yg punya kesan cukup mendalam bagi pribadi gw dan mungkin bagi kalian-kalian juga yg pernah melewatinya. Bersekolah di SMA tercinta Santa Maria Monica Bekasi Timur, Sekolah Katolik yang terkenal dengan kedisiplinannya terhadap siswa-siswinya tanpa pandang bulu. Guru-guru yang senantiasa mendampingi murid-muridnya dalam pelajaran. Sekolah yang mengajarkan Pendidikan Agama Katolik dari saya SD hingga SMA.


Logo SMA Santa Maria Monica, Bekasi Timur


Memasuki awal masa SMA di tahun 2006, duduk di kelas 10. Di sini adaptasi peralihan dari SMP ke SMA berjalan sekitar 1 bulan, masih dengan tampang imut dan polos menatap berbagai fasilitas dan ekskul yang ada di sekolah. Saat itu, bulan Agustus menjadi awal dimana berbagai persiapan menyambut
hari kemerdekaan RI hampir memenuhi seluruh aktivitas akademik yang terkadang terasa mengganggu juga. Suara latihan Marching Band di lapangan terdengar sampai ke kelas-kelas. Situasi belajar-mengajar terasa kurang kondusif. Ingin rasanya ikut bergabung dengan mereka-mereka saat itu. Namun apa daya, ternyata emang bagian gw cuma di kelas berkutat dengan buku-buku dan papan tulis.

Di bulan Agustus 2006, gw akhirnya dibaptis secara Katolik di sekolah gw sendiri, tepatnya di Aula SMA St. Maria Monica. Perjuangan iman yang membutuhkan proses cukup lama sejak gw belajar Agama Katolik dari SD sampai SMA ini. Berliku-liku masalah gw hadapi sebelum proses Pembaptisan ini. Dan dengan rasa bersyukur yang mendalam pada Tuhan Yesus, akhirnya gw diajak untuk menjadi pengikut-Nya. Romo yang membaptis gw saat itu, Romo Hendrikus dari Paroki Santo Arnoldus memberikan Sakramen Baptis pada diri gw dengan Wali Baptis Pak Siswanto, guru SMA gw sendiri. Mulai saat itu, pengalaman dan kehidupan iman gw sebagai orang Katolik yang nyata dimulai.

Kira-kira bulan September 2006, ada satu kebanggaan sendiri buat gw. Gw dan 2 kakak kelas dari kelas 11 dan 12 (lupa namanya.. maaf kk-kk >.<) diserahi tugas oleh Kepala Sekolah untuk mengikuti kompetisi Water Rocket (mudah2an ga salah nyebut) di PP IPTEK TMII. Bingung nan kaget, gw yg masih awam soal teori n praktikum FISIKA tiba2 diserahi tugas negara gini(lebayy..). Tapi, dengan semangat optimisme tinggi gw menerimanya dengan rasa bangga mewakili kelas 10. Berangkat hari minggu kira2 jam 7 pagi didampingi oleh Guru Fisika SMA kami, Mr.Blasius Kuminareng (kl yg ini gw pasti inget..). Tiba sekitar jam 9pagi, dipandu oleh Guide TMII ke ruangan perakitan Rocket. Kompetisi dimulai, gw dengan soknya baca-baca modul yang disediakan oleh panitia. Bingung??Udah pasti.. tapi dengan semangat45 gw coba pahami tu modul. Rakit sini rakit situ sambil celingak-celinguk tanya kk kelas gw (yg kelas 11) yang kebetulan dpt tmpt duduk di samping kanan gw. Detik demi detik, menit demi menit, roket air hasil rakitan gw jadi juga. Semua peserta selesai, digiring ke halaman luar PP IPTEK. Dan disinilah kompetisi yang sebenarnya dimulai, satu per satu roket air hasil rakitan peserta diluncurkan. Sistem penilaian didasarkan pada seberapa jauh dan seberapa tinggi roket air tersebut dapat meluncur. Ternyata banyak temen-temen peserta lain yang jauh lebih baik dalam merakit roket air. Alhasil, gw dan 2 kk kelas gw cukup mendapatkan ilmu yang lebih saja. Sertifikat di tangan, kiranya bisa menjadi modal ilmu yang berharga buat ke depannya nanti. Mr. Blasius juga ga kecewa-kecewa banget kok(mungkin dlm hatinya pengen ngamuk x yah??moga2 sih engga.. n.n). Kami ber-4 pulang ke Bekasi dengan ilmu yang mungkin suatu saat bisa diterapkan di masyarakat (untuk hal yg positif tentunya..).


Berikut foto lama masa SMA yang berhasil gw dapatkan:


Foto Lomba Paduan Suara dari 12 IPA (cowo2 ngumpet di belakang..hihi)




Foto Rekoleksi kelas 12 (Gw di pojok kanan bawah foto.. >.<)

Selesai dengan liku-liku kelas 10, suasana di kelas 11 lebih serius karena di sini mulai kepada 2 penjurusan, IPA atau IPS. Sehubungan gw emang lebih science dibanding metode hafalan di pelajaran IPS, yah masuklah gw ke kelas IPA. Sampe kelas 12, gw dan temen-temen anak IPA lainnya didampingi oleh pendamping gw waktu kompetisi kelas X, Mr. Blasius Kuminareng. Duduk di bangku kelas 12, penuh dengan perjuangan keras mempersiapkan Ujian Nasional yg selalu menjadi momok yang menakutkan bagi anak2 kelas 12 SMA saat itu dan mungkin sampai saat ini juga. Hari demi hari berkutat dengan buku-buku kumpulan soal UN tahun lalu, Try-Out tiap minggu. Dan tibalah hari penghakiman bagi seluruh anak SMA di negeri ini. Kelulusan siswa selama 3 tahun belajar di SMA hanya ditentukan dalam 5 hari? Pertanyaan itu selalu menjadi bahan perbincangan hangat baik bagi para guru maupun para murid. Tidak heran banyak kecurangan terjadi di berbagai daerah, dan jangan kaget kalau ternyata SMA-SMA Unggulan malah yang ternyata mengalami tingkat kegagalan yg cukup tinggi. Hal ini masih menjadi problema dari tahun ke tahun tanpa suatu solusi yang benar-benar berarti. Dengan penuh doa dan harapan, gw yakin suatu saat nanti akan muncul sebuah solusi yang tepat dari Depdiknas sehingga masalah pendidikan di negeri ini bisa tuntas. Sehingga dengan kualitas pendidikan yang lebih baik tentunya bangsa Indonesia ini bisa menatap masa depan lebih baik lagi.

Selesai mengerjakan soal-soal UN tersebut, dimulailah
1 bulan penantian menunggu sepucuk surat dari kantor POS yang dengan penuh harap akan berisi 5 huruf KAPITAL "LULUS". Entah kenapa proses pengiriman yang gw rasa terlalu lama itu membawa pengaruh positif atau malah negatif buat mereka yg menunggu, khususnya buat mereka yang SHOCK ketika 10 huruf terpampang pada kertas surat "TIDAK LULUS". Tangisan, kesedihan di sana-sini bahkan sampai ada yg KESURUPAN malah membuat suasana KELULUSAN jadi terasa hambar. Puji Tuhan, sekolah gw SMA Santa Maria Monica ini untuk pertama kalinya LULUS 100%. Gw dan seluruh angkatan 2006/2007 pastinya sangat-sangat BANGGA dengan hasil ini.


Yah itulah
masa SMA gw yang ga mungkin gw ceritain secara detail dan lengkap. Kondisi ekonomi Keluarga gw yg sempat terseok-seok di masa SMA karena banyaknya beban tanggungan hidup di Keluarga ini. Tapi sekali lagi, Mukjizat Tuhan terasa nyata dalam hidup gw. Terbukti gw yang dari keluarga dengan Ekonomi Menengah ini, mampu untuk berkuliah di salah Universitas Terkemuka. Aneh? ya, terkadang gw merasa seperti itu. Dan gw yakin Tuhan Yesus punya rencana indah buat gw selama gw terus mengisi hidup ini dengan sesuatu yg positif. Ya, inilah diri gw, Stefanus Enlik, 19 tahun, yang saat ini masih mengasah ilmu di bidang Teknologi dan Informasi.

2 komentar:

Twitter Bird Gadget